Langkah Kecil Bagi Jakarta Bersih Bagian2

Gayung bersambut, artikel tersebut mendapat tanggapan positif oleh para warga Jepang yang tinggal di Jakarta sekaligus menjadi cikal bakal terbentuknya sebuah komunitas bernama Jakarta Osoji Club, yang diketuai oleh sang penulis, Ashida San. Osoji sendiri berarti bersih-bersih, sesuai dengan aktivitas yang menjadi agenda utama komunitas ini. Digelar pertama kali pada 29 April 2012, aksi “bersih-bersih” ini dilakukan di sekitar Ring Road Gelora Bung Karno, Senayan. “Kami memilih di kawasan Senayan (GBK) karena faktor keselamatan dan banyak orang yang melakukan aktivitas di kawasan tersebut, sehingga sangat memungkinkan bagi kami untuk menyadarkan mereka akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya,”.

Dalam perkembangannya, JOC lebih memfokuskan kegiatan di kawasan GBK, dan berkomitmen belum akan pindah sebelum terbangunnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan di kawasan tersebut. Karenanya, mendukung komitmen tersebut, komunitas ini juga menjalin kerja sama dengan petugas kebersihan GBK untuk pembuangan sampah setelah terkumpul.

BERHARAP TIDAK ADA LAGI

Awalnya beranggotakan warga berkebangsaan Jepang yang tinggal di Indonesia, komunitas ini tetap membuka diri bagi siapa pun yang ingin terlibat. Tak ada syarat, Desi menegaskan. Cukup datang ke GBK setiap JOC mengadakan kegiatan dan membawa semangat untuk mengajak orang-orang di sana untuk membuang sampah pada tempatnya. Berbuah manis, di samping mendapatkan tanggapan yang sangat positif, kini, virus “peduli” yang ditularkan oleh JOC pun telah menyebar ke banyak tempat.

Hal yang sama juga berlaku pada jumlah anggotanya, yang terus bertambah diiringi lahirnya komunitas-komunitas serupa di kota lainnya. Keberadaan JOC sendiri selanjutnya menjadi bukti bahwa sesulit dan sekecil apapun kemungkinan untuk mewujudkan Jakarta yang bersih, selalu ada langkah sederhana yang harus dimulai. Melakukan hal kecil, seperti memungut sampah pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik ketimbang merutuki keadaan dan menyalahkan siapa-siapa. Karenanya, JOC pun berangan, “Kami sangat berharap JOC tidak ada lagi, karena masyarakat sudah sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan, sehingga JOC tidak dibutuhkan lagi untuk memungut sampah,” ucap Desi menutup pembicaraan.

Agar tetap sehat tentunya harus menjaga kebersihan lingkungan sehingga tidak adanya sarang penyakit yang bisa menjangkit. Namun untuk menjaga kenyamanan di rumah ataupun di kantor perlu adanya sebuah genset sebagai sumber listrik ketika listrik dari PLN sedang padam. Harga genset murah berkualitas bisa didapatkan melalui Distributor resmi jual genset silent 2000 Kva di Bandung.

Langkah Kecil Bagi Jakarta Bersih

Di usianya yang muda, sebuah komunitas bernama Jakarta Osoji Club berdiri melawan arus apatisme yang menjalar, dan menyadarkan masyarakat bahwa menjaga kebersihan Jakarta adalah tugas setiap orang. Minggu pagi yang cerah. Kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan ramai dijajaki banyak orang dari segala usia. Tetapi, serombongan orang berkaus hijau yang perlahan datang menarik perhatian. Dilengkapi dengan aksesori lainnya seperti topi, sarung tangan, serta alat penjepit sampah, rombongan tersebut memasuki area GBK. Jelang beberapa menit setelahnya, mereka berpencar.

Ada yang memunguti botol air mineral yang berserakan, ada yang membersihkan area dari puntung rokok yang dibuang sembarang oleh pemiliknya, ada pula yang sekadar memungut lalu memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Rombongan orang berseragam hijau lengkap dengan properti “bersih-bersih” inilah yang kemudian dikenal sebagai sebuah komunitas bernama Jakarta Osoji Club. Diselenggarakan pertama kali pada tanggal 29 April 2012, aktivitas ini lantas menjadi agenda rutin yang dilaksanakan selama dua minggu sekali.

Bertambahnya jumlah anggota JOC dari waktu ke waktu membuktikan bahwa masih banyak orang yang peduli dan berani bertindak secara nyata untuk mewujudkan ”Jakarta Bersih”. Berbekal sarung tangan, penjepit sampah, serta kemauan dan semangat, siapa pun dapat langsung menjadi anggota JOC dengan turut menjaga kebersihan pelataran GBK.

BERAWAL DARI TULISAN

Tidak ada yang menyangka bahwa sebuah tulisan dapat menggugah nurani banyak orang. Berawal dari sebuah artikel bertajuk Flame Tree yang diterbitkan oleh sebuah koran berbahasa Jepang di ibukota bernama Jakarta Shinbun, Ashida San pun menuangkan pemikirannya. Kepeduliannya terhadap “Jakarta Bersih” membuatnya sekaligus mengajak pembaca untuk ikut serta turun tangan. Nomor telepon serta alamat email lantas dicantumkannya, agar kelak orang-orang yang sepaham dengannya dapat dengan mudah menghubunginya.

Agar jakarta sehat memang seharusnya kebersihan di setiap sudut kota Jakarta sendiri. Untuk itulah diperlukan semua tangan dari masyarakat Jakarta dan Kesadarannya. Disamping itu untuk membantu menjaga kenyamanan di dalam rumah ataupun kantor di Jakarta perlu adanya sebuah genset. Harga genset yang murah bisa didapatkan melalui Distributor resmi jual genset silent di Jakarta.

Hijaukan Kota dengan Hortikultura

Hijaukan Kota dengan Hortikultura – Lebih dari setengah populasi manu – sia menghuni kota baik di Indonesia maupun belahan bumi lainnya. Sri Hartoyo, Dirjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) mengutip Bappenas, pada 2050 sebanyak 85% populasi Indonesia tinggal di perkotaan. Perubahan iklim di – pi cu ketersediaan air yang makin menipis, membuat pembangunan kota berkelan – jut an menjadi keniscayaan untuk men – jamin kehidupan manusia yang lebih baik. “Pembangunan perkotaan menerapkan kota hijau perlu diperhatikan. Infrastruk – tur hijau baik di luar maupun di dalam ju – ga diperlukan perhatian,” ujarnya pada Ex – po Urbanscape & Greenery 2018 di Jakarta. Hartoyo menambahkan, penataan lan – sekap perkotaan (urbanscape) yang baik tidak hanya memberi nilai estetika tetapi juga menyediakan udara yang baik dan eko sistem.

Ia menyadari, pembangunan kota hijau yang berkelanjutan perlu ko – mit men kelembagaan, program, penda – na an, dan pengelolaan, dan komitmen pengembang. “Dukungan pemerintah ber basis prakarsa pemkab/pemkot. Ke – menPUPR memberikan dukungan teknis sampai tercapainya standar pelayanan minimal,” imbuhnya. Naning Adiwoso, Chairwoman Green Buil ding Council Indonesia (GBCI) menya – takan, tanaman adalah tulang punggung kehidupan, penyuplai pangan, dan peng – hasil oksigen. Kelompok tanaman yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut ada – lah komoditas hortikultura berupa sayur – an dan buah. Apalagi, generasi milenial cen derung lebih banyak beraktivitas di dalam ruang. Keberadaan lansekap kota dan perumahan hijau yang sehat sangat penting bagi mereka. “Filosofi green building (bangunan hijau) adalah kesehatan,” ungkapnya.

Perumahan Hijau

Menurut Doni Priambodo dari Ciputra Re sidence, pengembang (developer) pe – rumahan memiliki peran besar dalam ur – banscape. Tantangan mewujudkan ur – banscape, ungkapnya, memerlukan lebih ba nyak ruang terbuka hijau (RTH) dan tanaman. “Kita bikin ecopark apakah salah satu solusi, paling nggak kita sudah investasi. Range of income-nya banyak, berbagai kalangan bisa masuk. Streetscape pen – ting. Kalau nggak diperhatikan, image de – ve loper pasti terkena,” paparnya. Saat ini Ciputra tengah membangun perumahan berkonsep ecological park (taman ekologi) yang sudah rampung 25%. Rahmat Taufik Hardi, General Manager Planning, Design, & QS Property Deve – lopment Region II PT Summarecon Agung menambahkan, perumahan ber – konsep hijau bukan berarti tersedia ta – man dan lansekap saja. Tetapi ada kebe – ra gaman, keamanan, dan toleransi an – tarpenduduk. “Hijau itu harus berkesi – nam bungan. Kawasan di Summarecon ha rus maju secara sosial dan ekonomi. Dan itu ditunjang oleh penghijauan, trans portasi dan fasilitas-faslitas yang mereka merasa dekat,” papar Taufik. Summarecon pun membuat city of neighbourhoods.

“Bagaimana klaster ini bisa mengisi satu sama lain. Klaster ini hi – dup dan tidak ditinggal penghuninya. Ba – gaimana ekonominya setelah itu?” ulasnya. Monika Indiasari, Konsultan Jakarta Ba – se yang sukses mendesain Taman Koro – nium di Brunei Darussalam menegaskan, lansekap bukan sekadar tanaman. Ada beberapa tantangan yang ditemui dalam mengembangkan urbanscape, yaitu batasan waktu, anggaran, dan kepenting – an. Terkadang ada perbedaan kepenting – an antara pemerintah dengan masyarakat pengguna ruang. Ditambah lagi, peme – liharaan lansekap yang sulit karena rumit hingga bahan pembentuk lansekap tidak tahan lama. “Perlu edukasi bahwa ruang publik adalah nilai tambah yang bisa dikembangkan di suatu kota,” cetusnya. Baik Doni maupun Taufik mengakui, tren permintaan perumahan berkonsep hijau semakin tinggi meski mereka tidak me – nam pik harga rumah yang ditawarkan ju – ga ikut naik.

“Benefit yang bisa kita da – patkan sangat banyak. Secara ekonomi pasti meningkatkan property value (nilai perumahan) sampai 20%,” urai Monika. Dengan adanya desain yang baik akan men datangkan orang-orang untuk sosia – lisasi bersama. Menerapkan konsep hijau, kata Taufik, Summarecon juga memberikan tanaman hortikultura berupa tanaman buah, se – perti jambu pada setiap orang yang mem – beli rumah di tempatnya. “Kenapa, kalau tanaman buah ‘kan disayang, dijaga,” imbuhnya. Sementara Henry Bastaman, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan – an menyatakan, sampah menjadi masalah utama urbanscape yang perlu ditangani.

“Kesadaran penduduk Indonesia terha – dap sampah sangat rendah. Infrastruktur untuk menjaga sampah belum terpenuhi de ngan baik, lokasi dan bujet untuk me – nge lola sampah relatif rendah,” im – buhnya. Survei 2016 menunjukkan, sebagian sam pah di Indonesia adalah sampah or – ganik yang berasal dari rumah tangga. “Dari 60% sampah organik itu 40%-nya sisa-sisa makanan. Yang paling kecil itu da – ri bahan-bahan nonorganik,” ungkap Henry. Pengelolaan sampah harus melibatkan semua pihak, yaitu pemerintah, masyara – kat, dan industri. “Ada 13 ribu lebih bank sampah di seluruh Indonesia. Sebanyak 179 ribu orang terlibat pengelolaan sam – pah lewat bank sampah. Ini memberikan lapangan kerja di perkotaan,” tandasnya.

RTH untuk Urban Farming

Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta, menurut Oswar M. Mungkasa, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup – Chief Resilience Officer (CRO) Jakarta Berketa – hanan, terkendala rendahnya kesadaran akan peran penting RTH. Terlebih, keter – sediaan lahan kosong di Jakarta sangat terbatas. “Begitu tanahnya kosong, ter – nyata sengketa atau nggak tepat jadi RTH,” katanya. Meski begitu, sambungnya, di Jakarta masih ada ruang sekitar 9,98% atau 6.000-an ha sesuai fungsi RTH. RTH yang bersifat pribadi sebanyak 14% tetapi RTH milik publik harus mencapai 20%. Oswar menjelaskan, saat ini Pemerintah Kota DKI tengah menyiapkan RTH sebagai sa – rana urban farming (pertanian perko ta – an). Luasnya sekitar 1,7 ha di Grogol Selatan.

“Kita sedang mengupayakan masalah le galnya. Itu menggunakan lahan peme – rintah tapi ‘kan ada yang de jure (secara hukum) punya kita (pemerintah), de facto (faktanya) didudukin orang,” jelasnya. RTH ini diharapkan menjadi proyek percontohan tempat belajar masyarakat hingga mahasiswa dalam mengem – bangkan urban farming. “Kita ingin agar punya suatu jejaring di mana kita bisa saling interaksi dan pemerintah mem – bantu,” lanjutnya. Selain itu, Pemkot DKI telah membangun urban farming di ber – bagai tempat, seperti di rumah susun Ma – runda dan Cempaka Putih.